Laman

Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Maret 2011

Penghargaan Orang Tua terhadap Ilmu

Baru saja aku mewawancarai seorang teman, karena diberi tugas berlatih wawancara fenomenologi (sesuai suatu fenomena atau kejadian). Temanku ini punya buanyak pengalaman. Dia seorang ustadzah, pernah mengajar di SMA, bekerja sampai level executive manager, bahkan pernah pula jadi caleg tingkat wilayah di Pemilu 2004 lalu!

Topik yang aku pilih untuk wawancara ini adalah mengenai pengalamannya terjun ke dunia politik hingga dicalonkan jadi caleg, karena ini pengalaman unik buatku. Ngga semua orang yang kukenal mau terjun ke dunia politik.

Jadi, kutanyakan dia beberapa macam pertanyaan, sampai ke pertanyaan tentang bagaimana dia bisa membuat keluarganya (terutama ibunya) menerima aktivitasnya bergabung dengan sebuah partai. Tak kusangka--karena selama ini aku tahu diantara saudara-saudaranya yang total berjumlah 8 orang termasuk dia, ibunya paling demen sama dia--ternyata dulu dia langganan kena amukan ibunya!


Sabtu, 12 Februari 2011

Pendidikan Teoritis di Indonesia

Beberapa hari yang lalu saya meminjam sebuah buku yang berpenampilan sangat sederhana di Perpustakaan Pusat UI. Cover-nya berwarna biru polos dengan 2 baris font judul simpel, yang bertuliskan "Pembinaan Watak Tugas Utama Pendidikan", oleh Slamet Iman Santoso. Buku ini adalah kumpulan karya tulis Pak Slamet, seorang pendiri Fakultas Psikologi UI, di media cetak, yang dikumpulkan oleh murid-muridnya. 
 
Dibalik tampilan luarnya yang benar-benar amat sederhana, tak disangka buku ini begitu berisi. Topik pertama yang saya baca sudah terasa ditulis dengan begitu menggebu-gebu. Tulisannya berjudul "Sifat Sekolah Rakyat", dari bagian Pokok Pemikiran Pendidikan Sebelum 1970. Pada karyanya yang ini, Pak Slamet mengkritisi Sekolah Rakyat (SR) yang terlalu cenderung mengajarkan ilmu teori kepada siswa. Karena situasi SR sebelum tahun 1970-an ini masih tidak jauh berbeda dengan kondisi Sekolah Dasar (SD) sekarang, saya tertarik sekali untuk menceritakan ulang isi topik ini, tak lupa ditambahkan pula dengan hasil diskusi saya dengan seorang guru.

Selasa, 05 Oktober 2010

Sekolah buat apa?

"Buat apa saya sekolah kalau sudah bisa berpenghasilan sendiri?"

Pertanyaan itu dilontarkan oleh seorang artis cilik. Ceritanya bermula ketika di kelas matrikulasi peminatan pendidikan, mba Dini, dosen di kampus, ngobrolin tentang artis sama kita. Ini nih enaknya S2, udah isi kelasnya lebih sedikit, jadinya bisa ngobrol sama dosen, topik-topiknya juga asik lagi,, tentang segalanya yang berkaitan dengan cara mendidik anak yang tepat. Kayak dapat training gratis jadi mama yang baik deh. Ehehehehe.. 

Obrolannya mulai dari temen-temen anaknya si ibu dosen yang beberapa adalah artis, terus lanjut ke ngegosipin mobil mereka yang udah kayak rumah berjalan, sampai ke niat si ibu supaya dikontrak jadi artis sinetron waktu udah pensiun nanti. "Dapat peran ibu tiri pun saya terima..!"

Terus, begitu pembahasan udah nyinggung-nyinggung soal duitnya para artis, Nisa si mantan wartawan kompas.com, angkat bicara..